- Dow Jones cetak rekor baru, sementara S&P 500 dan Nasdaq naik tipis.
- Saham kesehatan dan konsumer menguat, sedangkan saham chip melemah.
- Pasar menanti perkembangan damai AS-Iran dan data inflasi AS.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir di zona hijau, Rabu, dengan kenaikan saham sektor kesehatan dan konsumer berhasil mendorong indeks Dow mencetak rekor penutupan tertinggi baru, sementara S&P 500 dan Nasdaq bergerak relatif datar di tengah jeda reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) dan kehati-hatian investor terhadap perkembangan negosiasi damai di Timur Tengah.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melompat 182,60 poin atau 0,36 persen menjadi 50.644,28, sementara S&P 500 menguat tipis 1,24 poin atau 0,02 persen ke posisi 7.520,36 dan Nasdaq Composite Index bertambah 18,55 poin atau 0,07 persen jadi 26.674,74, demikian laporan Reuters dan Investing , di New York, Rabu (27/5) atau Kamis (28/5) pagi WIB.
Namun, kenaikan tipis tersebut cukup untuk membawa S&P 500 dan Nasdaq kembali mencetak rekor penutupan tertinggi untuk hari kedua berturut-turut.
Sektor perbankan berada di bawah tekanan setelah saham JPMorgan Chase anjlok 2,4 persen, usai CEO Jamie Dimon memperingatkan bahwa biaya operasional tahun ini berpotensi membengkak hingga USD1 miliar di atas estimasi sebelumnya.
Dari sisi geopolitik, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio menyatakan terdapat kemajuan dalam negosiasi dengan Iran menuju kesepakatan damai. Namun Presiden Donald Trump mengatakan masih ada sejumlah persoalan yang belum terselesaikan antara kedua negara. Media Iran, Fars News, juga melaporkan masih adanya beberapa isu yang belum mencapai titik temu.
Dow Jones, yang sebelumnya juga mencatat rekor penutupan pada Kamis dan Jumat pekan lalu, didorong oleh rotasi dana investor ke saham-saham sektor kesehatan dan konsumer. Saham Procter & Gamble melambung 3,2 persen, sedangkan UnitedHealth melonjak 1,9 persen.
Sebaliknya, pelemahan saham semikonduktor membebani Nasdaq yang sarat saham teknologi.
Chief Investment Officer Clark Capital Management Group, Sean Clark, mengatakan jeda penguatan pasar merupakan hal wajar setelah reli besar yang terjadi sebelumnya.
Menurut dia, pasar saat ini masih memiliki banyak faktor positif, meski penguatan utama tetap didorong saham teknologi, AI, dan sektor terkait AI. Dia menilai partisipasi pasar secara keseluruhan juga masih cukup luas.
Dari sisi sektoral, indeks saham konsumer diskresioner memimpin penguatan dengan lompatan 1,9 persen.
Sementara itu, indeks energi S&P 500 merosot 1,5 persen mengikuti pelemahan harga minyak yang sempat jatuh hingga 5 persen. Saham teknologi juga terkoreksi setelah mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada Selasa.
Saham-saham chip mengalami aksi ambil untung setelah reli tajam sebelumnya. Intel menyusut 1,4 persen, Marvell Technology merosot 4,6 persen, sedangkan Qualcomm melemah 6 persen setelah melonjak tajam sehari sebelumnya.
Raksasa chip Nvidia terkoreksi 1 persen dan indeks semikonduktor Philadelphia SE kehilangan 1,4 persen setelah mencetak rekor tertinggi pada perdagangan Selasa.
Chief Technical Strategist LPL Financial, Adam Turnquist, mengatakan dominasi sektor teknologi masih sulit diabaikan karena terus mencetak level tertinggi baru, baik secara absolut maupun relatif dibanding pasar secara keseluruhan.
Namun dia mengingatkan bahwa momentum yang mulai terlalu tinggi dan posisi investor yang semakin padat memunculkan pertanyaan mengenai keberlanjutan reli dalam jangka pendek.
Di sisi lain, saham perusahaan keamanan cloud Zscaler ambles 31,5 persen setelah memproyeksikan pendapatan kuartal keempat di bawah ekspektasi pasar.
Saham GlobalFoundries juga jatuh 9,8 persen setelah Bloomberg melaporkan pemegang saham mayoritasnya, Mubadala Investment Company, berupaya menghimpun dana USD1,91 miliar melalui penjualan blok saham GFS yang tidak terdaftar.
Sebaliknya, Bath & Body Works melejit 9,7 persen setelah melaporkan penjualan dan laba kuartal pertama yang melampaui perkiraan analis. Saham Abercrombie & Fitch turut menguat setelah membukukan laba kuartalan yang solid.
Goldman Sachs juga menaikkan proyeksi akhir 2026 untuk indeks S&P 500 menjadi 8.000 dari sebelumnya 7.600, didorong optimisme terhadap kekuatan laba korporasi.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data indeks personal consumption expenditures (PCE), Kamis. Indikator inflasi acuan Federal Reserve tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk baru terkait arah kebijakan moneter bank sentral di bawah pimpinan baru Kevin Warsh.
Di Bursa Efek New York ( NYSE ), jumlah saham yang naik mengungguli yang turun dengan rasio 1,13 banding 1. Tercatat 453 saham mencetak level tertinggi baru dan 99 saham menyentuh level terendah baru.
Sementara di Nasdaq, sebanyak 2.420 saham menguat dan 2.498 saham melemah, sehingga saham yang turun sedikit lebih banyak dibanding yang naik, dengan rasio 1,03 banding 1.
Indeks S&P 500 membukukan 37 harga tertinggi baru dalam 52 minggu dan 8 harga terendah baru, sementara Nasdaq Composite mencatat 169 harga tertinggi baru dan 74 harga terendah baru.
Volume perdagangan di seluruh bursa Wall Street mencapai 18,81 miliar saham, sedikit di atas rata-rata 20 hari terakhir sebesar 18,78 miliar saham. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Procter & Gamble Company (3,17%)
-Boeing Co (2,51%)
-Amazon.com Inc (2,49%)
Saham berkinerja terburuk
-JPMorgan Chase & Co (-2,43%)
-Travelers Companies (-1,61%)
-Chevron Corp (-1,25%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-MGM Resorts International (9,08%)
-United Airlines Holdings Inc (6,33%)
-Norwegian Cruise Line Holdings Ltd (6,14%)
Saham berkinerja terburuk
-Boston Scientific Corp (-12,53%)
-Qualcomm Incorporated (-6,20%)
-Skyworks Solutions Inc (-5,67%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
-Cuprina Holdings Inc (788,00%)
-Astrotech Corp (457,67%)
-NetClass Technology Inc (107,61%)
Saham berkinerja terburuk
-Verra Mobility Corp (-70,60%)
-High Trend International Group (-45,42%)
-Generation Income Properties Inc (-37,63%)
Sumber : Admin