- Wall Street variatif; Dow naik, sementara S&P 500 dan Nasdaq melemah.
- Saham teknologi dan semikonduktor tertekan aksi ambil untung serta tensi AS-Iran.
- Investor menanti data inflasi AS yang dapat memengaruhi arah suku bunga.
Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street berakhir variatif, Selasa, dengan Nasdaq dan S&P 500 melemah setelah pemulihan saham teknologi kehilangan momentum. Sentimen pasar juga tertekan oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah Presiden Donald Trump menyatakan Washington harus merespons tindakan Iran yang disebut telah menembak jatuh helikopter militer Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 86,10 poin atau 0,17 persen menjadi 50.872,11. Sebaliknya, indeks berbasis luas S&P 500 turun 19,08 poin atau 0,26 persen jadi 7.386,65, sedangkan Nasdaq Composite Index merosot 250,84 poin atau 0,97 persen ke posisi 25.678,82, demikian laporan Reuters dan Investing, di New York, Selasa (9/6) atau Rabu (10/6) pagi WIB.
Tekanan jual meningkat setelah Trump mengunggah pernyataan di media sosial yang menyebut Iran telah menembak jatuh helikopter Apache Amerika yang sedang berpatroli di Selat Hormuz. Trump menegaskan, Amerika akan memberikan respons atas insiden tersebut, sehingga memunculkan kembali kekhawatiran bahwa upaya meredakan konflik di Timur Tengah dapat terganggu.
Ketegangan tersebut mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Indeks volatilitas Cboe (VIX), yang sering disebut sebagai indikator ketakutan pasar, sempat menyentuh level tertinggi sejak 7 April di tengah aksi jual saham yang meluas.
Saham teknologi kembali menjadi sasaran aksi ambil untung setelah sempat rebound pada perdagangan Senin. Indeks teknologi dalam S&P 500 sempat anjlok lebih dari 4 persen sebelum memangkas sebagian kerugian dan akhirnya ditutup melorot 1,8 persen.
Sementara itu, Philadelphia Semiconductor Index yang menjadi acuan sektor chip sempat merosot hingga 8,6 persen setelah sebelumnya menguat 3 persen pada awal perdagangan. Indeks tersebut akhirnya ditutup menyusut 1,9 persen.
Kepala Strategi Pasar JonesTrading, Michael O'Rourke, mengatakan pelemahan sektor teknologi mencerminkan berlanjutnya rotasi investasi dari saham pertumbuhan tinggi ke sektor lain yang dinilai memiliki valuasi lebih menarik.
Menurutnya, aksi jual yang semula terjadi di sektor teknologi kemudian menyebar ke pasar secara lebih luas. O'Rourke menyebut, pernyataan Trump terkait Iran turut memperburuk tekanan jual dan memicu penurunan tambahan di pasar saham.
Sebelumnya, Iran dan Israel pada Senin menyatakan menghentikan serangan langsung satu sama lain, yang sempat memunculkan harapan ketegangan di kawasan Timur Tengah mulai mereda. Namun perkembangan terbaru membuat investor kembali berhati-hati terhadap risiko geopolitik.
Di tengah tekanan pada saham teknologi, saham bernilai (value stocks) menunjukkan kinerja lebih baik. Indeks Russell 1000 Value naik 0,4 persen dan mengungguli Russell 1000 Growth yang turun 0,7 persen.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga mulai mengantisipasi sejumlah agenda penting yang berpotensi memicu volatilitas dalam beberapa hari ke depan. Salah satunya adalah rilis data inflasi konsumen Amerika Serikat periode Mei yang dijadwalkan pada Rabu.
Data tersebut akan menjadi indikator penting untuk mengukur dampak kenaikan harga energi akibat konflik Iran terhadap inflasi domestik AS. Hasilnya diperkirakan memengaruhi ekspektasi pasar terhadap langkah kebijakan Federal Reserve.
Pekan lalu, data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan meningkatkan keyakinan investor bahwa the Fed masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.
Selain data inflasi, perhatian pasar juga tertuju pada penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX yang dijadwalkan berlangsung Jumat. IPO perusahaan antariksa milik Elon Musk tersebut diperkirakan menjadi yang terbesar dalam sejarah pasar modal.
SpaceX menargetkan penghimpunan dana USD75 miliar dengan valuasi mencapai USD1,75 triliun. Besarnya nilai transaksi tersebut memicu perdebatan di kalangan investor mengenai potensi euforia berlebihan terhadap saham-saham teknologi berpertumbuhan tinggi.
Manajer Portofolio Argent Capital Management, Jed Ellerbroek, mengatakan hampir seluruh perusahaan manajemen investasi di Amerika Serikat saat ini membahas dan mengevaluasi peluang investasi di SpaceX.
Menurutnya, besarnya skala IPO tersebut berpotensi menciptakan pergerakan pasar yang sangat volatil ketika saham mulai diperdagangkan. Dia memperkirakan perdagangan pada Jumat akan berlangsung sangat aktif dengan fluktuasi harga yang tinggi.
Kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi sebenarnya telah muncul sejak akhir pekan lalu setelah Broadcom mengeluarkan proyeksi bisnis yang mengecewakan pasar. Hal itu memicu aksi jual pada saham yang terkait dengan kecerdasan buatan (AI), khususnya sektor semikonduktor yang sebelumnya mencatat reli kuat sepanjang tahun ini.
Meski demikian, indeks semikonduktor masih mencatat keuntungan sekitar 78,7 persen sejak awal tahun, menunjukkan sektor tersebut tetap menjadi salah satu pendorong utama penguatan pasar saham Wall Street pada 2026.
Pada perdagangan Selasa, saham Broadcom melorot 1,1 persen, sementara Nvidia melemah tipis 0,2 persen.
Di luar sektor teknologi, saham penyedia jaringan telekomunikasi Ciena merosot 5,9 persen setelah perusahaan mengumumkan penetapan harga untuk penerbitan obligasi konversi.
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,33 banding 1 di Bursa Saham New York ( NYSE ). Terdapat 208 rekor tertinggi baru dan 190 rekor terendah baru di NYSE .
Di Nasdaq, 2.494 saham menguat dan 2.378 saham melemah, di mana saham yang naik lebih banyak daripada yang turun dengan rasio 1,05 banding 1. Indeks S&P 500 mencatat 31 rekor tertinggi baru dalam 52 minggu dan 8 rekor terendah baru, sementara Nasdaq Composite membukukan 151 rekor tertinggi baru dan 181 rekor terendah baru.
Volume transaksi di bursa Wall Street mencapai 24,77 miliar saham, dibandingkan rata-rata sekitar 20 miliar saham untuk sesi penuh selama 20 hari perdagangan terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik di Dow
-Home Depot Inc (3,75%)
-Sherwin-Williams Co (3,67%)
-Nike Inc (3,25%)
Saham berkinerja terburuk
-Salesforce Inc (-3,96%)
-Apple Inc (-3,64%)
-Cisco Systems Inc (-3,05%)
Saham berkinerja terbaik di S&P 500
-JM Smucker Company (10,44%)
-Amphenol Corporation (7,25%)
-Pool Corporation (6,34%)
Saham berkinerja terburuk
-Super Micro Computer Inc (-7,66%)
-Corning Incorporated (-7,28%)
-ServiceNow Inc (-6,33%)
Saham berkinerja terbaik di Nasdaq
- CCSC Technology International Holdings Ltd (269,37%)
-Youlife Group Inc ADR (205,91%)
-Core AI Holdings Inc (126,83%)
Saham berkinerja terburuk
-SmartKem Inc (-53,90%)
-Texxon Holding Ltd (-48,08%)
-Aditx Therapeutics Inc (-42,08%)
Sumber : Admin