Bos BCA Agak Khawatir dengan AI
Thursday, April 30, 2026       18:08 WIB

JAKARTA, investor.id- Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk () atau BCA,Hendra Lembong, menilai implementasi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor perbankan memiliki tantangan kompleks.
Dia menyebut, implementasi AI ibarat pisau bermata dua. Meski menawarkan efisiensi tinggi, BCA memilih bersikap sangat hati-hati, terutama dalam pengambilan keputusan strategis sepertipemberian kredit.
"Memang AI ini seperti pisau bermata dua memang. Di kita pun tadi makanya tidak ada contohnya di kredit proposal. Jadi kita belum pakai," ucap ujar Hendra dalam acara CEO Lecture Series II di Perbanas Institute, Jakarta, pada Kamis (30/4/2026).
Hendra juga mengungkapkan bahwa risiko akurasi menjadi alasan utama untuk BCA belum mengimplementasikan penuh ke dalam penilaian kredit ( credit assessment ). Menurutnya, AI belum sepenuhnya terbukti mampu menilai aspek kualitatif dalam prinsip 5C ( Character , Capacity , Capital , Collateral , dan Condition ).
"Nah, kita masih agak khawatir nih dengan AI untuk menilai karakter nasabah dan sebagainya. Takutnya halunya masih banyak. Jika kita mengambil keputusan berdasarkan model yang belum proven (terjamin), ini bisa mengakibatkan salah decision ," ujar Hendra.
Selain kendala teknis dalam penilaian kredit, Hendra menyoroti sisi gelap AI yang kerap disalahgunakan untuk tindakan penipuan atau kecurangan ( fraud ). Meski perbankan menggunakan AI untukmemperkuat sistem keamanan, para pelaku kejahatan keuangan juga memanfaatkan teknologi serupa untuk mengembangkan modus penipuan baru.
"AI juga banyak dipakai untuk fraud . Kita pakai AI untuk mengurangi ( fraud ), banyak juga yang pakai untuk menipu orang. Dan itu kan udah banyak lah kalau dilihat," jelas dia.
Dari sisi operasional, biaya lisensi AI yang fantastis juga menjadi pertimbangan serius. Hendra mengilustrasikan bahwa penggunaan AI untuk 1.000 agen di contact center bisa menelan biaya lisensi hingga puluhan miliar rupiah.
Lebih jauh, Hendra menekankan bahwa transformasi digital di Indonesia harus tetap mempertimbangkan dampak sosial. Sebagai negara berkembang, Indonesia masih sangat membutuhkan ketersediaan lapangan kerja yang luas.
"Lama-lama kita pikir orang aja kali yang kerjain yang lebih murah kali ya. Jadi ini juga keputusan yang kita lihat juga mau seberapa cepat. Karena yang dibutuhkan negara kita ini kan lapangan kerja," pungkas Hendra, sekaligus menegaskan komitmen BCA dalam menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan pemberdayaan SDM nasional.

Sumber : investor.id