Harga Emas Melorot Usai Tembus Rekor Tertinggi, Ini Penyebabnya
Thursday, February 20, 2025       09:16 WIB

NEW YORK , investor.id - Harga emas melorot, setelah sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada Rabu (19/2/2025). Hal itu disebabkan menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan meningkatnya ketidakpastian akibat kebijakan tarif terbaru Presiden Donald Trump.
Dikutip dari Reuters, harga emas spot turun 0,2% menjadi US$ 2.928,49 per ons, setelah sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$ 2.946,85 per ons. Sedangkan rekor tertinggi harga emas sebelumnya berada di level US$ 2.942,5 yang tercatat pada 11 Februari lalu.Sementarakontrak berjangka emas AS ditutup melemah 0,4% di level US$ 2.936,10 per ons.
Indeks dolar naik 0,1%, membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
"Kita berada dalam kondisi ketidakpastian yang tidak biasa. Pemicu utamanya adalah tarif dan perundingan perdagangan yang tengah berlangsung di seluruh dunia," kata analis pasar di Sprott Asset Management Paul Wong.
Ketidakpastian ini muncul setelah Trump mengumumkan niatnya untuk memberlakukan tarif impor mobil hingga 25%, serta tarif serupa terhadap impor semikonduktor dan farmasi. Langkah ini mengikuti kebijakan tarif sebelumnya yang mencakup bea masuk 10% untuk barang impor dari China serta tarif 25% untuk baja dan aluminium pada awal bulan ini.
Sebagai aset lindung nilai, emas sering digunakan untuk mengantisipasi risiko geopolitik dan inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Pejabat The Fed masih belum sepenuhnya yakin tentang dampak tarif terhadap inflasi.
Suku Bunga The Fed
Saat ini, pasar memperkirakan kemungkinan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin tahun ini, dengan probabilitas 44% untuk pemangkasan tambahan sebelum akhir tahun, berdasarkan data LSEG .
Setelah pelantikan Trump, pejabat The Fed menyuarakan kekhawatiran bahwa tarif impor dapat mendorong perusahaan menaikkan harga guna mengkompensasi beban tambahan tersebut.
Sedangkan harga logam mulia lainnya, harga perak spot, yang banyak digunakan dalam komponen elektronik, turun 0,4% menjadi US$ 32,74 per ons, mendekati rekor tertinggi dalam satu dekade. Platinum melemah 1,7% menjadi US$ 970,45 per ons. Sementara paladium anjlok 1,6% menjadi US$ 971,47 per ons.
"Meskipun tarif baru dapat melemahkan permintaan industri terhadap perak, dari sisi valuasi, logam ini masih memiliki potensi kenaikan," ujar analis utama Exinity Group Han Tan.

Sumber : investor.id