Harga Minyak Bertahan di Level Tertinggi Empat Bulan
Thursday, January 29, 2026       09:52 WIB

NEW YORK , investor.id -Harga minyak dunia bertahan di sekitar level tertinggi dalam hampir empat bulan pada perdagangan Rabu (28/1/2026). Kenaikan harga ditopang meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Iran serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik 83 sen (1,23%) ke level US$ 68,40 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 82 sen (1,31%) menjadi US$ 63,21 per barel.
Kedua acuan tersebut berada di jalur kenaikan bulanan terbesar secara persentase sejak Juli 2023. Sepanjang Januari, harga Brent diperkirakan melonjak sekitar 12%, sedangkan WTI naik sekitar 10%.
Sentimen geopolitik kembali menguat setelah Presiden AS Donald Trump mendesak Iran untuk kembali ke meja perundingan terkait program nuklirnya. Trump memperingatkan bahwa serangan AS berikutnya akan jauh lebih keras jika kesepakatan tidak tercapai. Pemerintah Iran merespons dengan menyatakan akan melakukan perlawanan besar jika diserang.
Ketegangan semakin meningkat setelah sebuah kapal induk AS beserta kapal perang pendukungnya tiba di kawasan Timur Tengah, sebagaimana disampaikan pejabat AS awal pekan ini.
"Pasar sempat menguat karena kekhawatiran terhadap pengerahan armada militer AS, tetapi kemudian tertahan oleh harapan tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina," ujar analis senior Price Futures Group, Phil Flynn.
Pembicaraan trilateral antara Rusia, Ukraina, dan AS dijadwalkan kembali digelar di Abu Dhabi pada 1 Februari, menurut laporan kantor berita Rusia, Interfax, yang mengutip pernyataan Kremlin.
Harga minyak juga mendapat dukungan dari penurunan stok minyak mentah AS yang melampaui perkiraan pasar.
Stok Minyak AS Turun
Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah turun 2,3 juta barel menjadi 423,8 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Januari. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan ekspektasi analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan stok sebesar 1,8 juta barel.
"Laporan ini cukup solid, dengan kenaikan kecil pada stok bensin dan distilat, namun penurunan stok minyak mentah lebih besar. Ekspor minyak yang kuat dan impor yang lebih rendah berkontribusi pada penurunan stok," ujar analis UBS Giovanni Staunovo sembari menambahkan, laporan berikutnya akan menarik untuk mencermati dampak cuaca dingin ekstrem terhadap data energi.
Badai musim dingin melanda sebagian besar wilayah AS pada akhir pekan lalu, menekan infrastruktur energi dan jaringan listrik. Produsen minyak AS mulai mengoperasikan kembali sumur-sumur minyak yang sempat terhenti. Namun, produksi minyak domestik diperkirakan turun sekitar 600.000 barel per hari, atau sekitar 4% dari total produksi nasional.
Di sisi lain, pelemahan dolar AS turut menopang harga minyak. Indeks dolar AS berada di dekat level terendah dalam hampir empat tahun terhadap sekeranjang mata uang utama, sehingga komoditas berdenominasi dolar seperti minyak menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
The Fed sebelumnya memutuskan menahan suku bunga, dengan alasan inflasi masih tinggi meski pertumbuhan ekonomi tetap solid. Bank sentral juga belum memberikan sinyal jelas kapan biaya pinjaman akan diturunkan.
Dari kawasan lain, gangguan produksi di Kazakhstan turut menopang reli harga minyak. Meski negara anggota OPEC + tersebut berharap produksi di ladang Tengiz dapat pulih secara bertahap dalam sepekan, sejumlah sumber menyebut pemulihan kemungkinan memakan waktu lebih lama.

Sumber : investor.id