Wall Street Berbalik Arah, Sektor Keuangan dan Energi Jadi Pemberat Pasar
Thursday, January 08, 2026       08:51 WIB

NEW YORK , investor.id -Indeks-indeks saham Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Rabu (7/1/2026), dengan indeks Dow Jones terjun lebih dari 450 poin dan S&P 500 mundur dari level tertinggi sepanjang masa (all time high). Pelemahan ini terjadi setelah sektor keuangan dan energi yang sebelumnya menjadi motor penguatan di awal 2026 mulai kehilangan momentum.
Dikutip dari CNBC internasional, indeks S&P 500 turun 0,34% dan ditutup di level 6.920,93. Sementara itu, Dow Jones Industrial Average anjlok 466 poin (0,94%) ke posisi 48.996,08. Kedua indeks tersebut sempat mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa ( all time high /ATH) intraday di awal sesi perdagangan.
Berbeda arah, Nasdaq Composite justru masih mampu menguat tipis 0,16% dan berakhir di level 23.584,27.
Sektor keuangan dan energi, yang tampil kuat di awal tahun ini, menjadi pemberat utama pasar dengan penurunan lebih dari 1%. Sejumlah saham perbankan besar seperti JPMorgan, Bank of America, dan Wells Fargo ditutup di zona merah. Di sektor energi, saham Exxon Mobil, Chevron, dan ConocoPhillips juga menjadi laggard.
Tekanan pada saham energi sejalan dengan penurunan harga minyak mentah. Pelemahan ini dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut otoritas sementara di Venezuela akan menyerahkan hingga 50 juta barel minyak ke Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan minyak global.
Manajer portofolio senior Globalt Investments Keith Buchanan menilai, pergerakan harga minyak yang cenderung lemah mencerminkan kondisi pasokan yang masih longgar. "Minimnya pergerakan harga minyak, menurut kami, menjadi sinyal bahwa pasar masih jauh dari kondisi ketat antara pasokan dan permintaan. Risiko kelebihan pasokan cukup besar," ujar Buchanan.
Risiko Geopolitik Global
Meski harga minyak melanjutkan pelemahan sejak Selasa, pasar saham sebelumnya sempat menguat karena investor terlihat mengesampingkan kekhawatiran atas serangan AS ke Venezuela pada akhir pekan lalu. "Apa yang terjadi di Amerika Selatan sejauh ini belum mengubah prospek pertumbuhan ekonomi AS dari sudut pandang pasar saham," kata Buchanan.
Namun, Buchanan mengingatkan risiko geopolitik global masih membesar. "Ada kecenderungan pasar meremehkan risiko geopolitik yang meningkat. Situasinya masih seperti berada di atas bara api," ujarnya.
Sentimen pasar juga tertekan oleh sejumlah pernyataan Trump yang menegaskan tidak akan mengizinkan perusahaan pertahanan membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali saham ( buyback ) sebelum menyelesaikan keluhannya terhadap industri tersebut. Pernyataan ini langsung menekan saham-saham sektor pertahanan.
Selain itu, Trump juga menyatakan AS akan melarang investor institusional besar membeli rumah tapak ( single-family homes ). Kebijakan ini membebani saham-saham private equity , termasuk Blackstone dan Apollo Global Management.
Di tengah pelemahan pasar, saham perusahaan pengilangan minyak justru mencatatkan penguatan. Saham Valero Energy melonjak sekitar 3%, sementara Marathon Petroleum naik lebih dari 1%. Kenaikan ini terjadi setelah sumber menyebutkan kepada CNBC bahwa penjualan minyak Venezuela ke AS akan berlangsung tanpa batas waktu dan sanksi terhadap negara tersebut akan dilonggarkan.

Sumber : investor.id