Harga Batu Bara Turun 2,5 Persen, Saham ADRO Cs Kompak Merah Awal Pekan
Monday, October 02, 2023       10:18 WIB

IDXC hannel - Harga batu bara di bursa Newcastle berjangka turun 2,47 persen pada perdagangan pekan lalu. Harga batu bara per Jumat lalu (29/9) berada di level USD159,95 per ton untuk kontrak November 2023.
Dalam sebulan, harga batu bara telah menguat 2,63 persen. Meski, dalam setahun, harga emas hitam masih tertekan 63,09 persen, menurut data  Trading Economics .
Harga batu bara baru-baru ini terangkat oleh kenaikan harga acuan energi lainnya dan tanda-tanda pengurangan pasokan.
Harga minyak masih melanjutkan penguatan dalam dua minggu terakhir. Kondisi ini menempatkan harga acuan Brent dan West Texas Intermediate (WTI) dalam posisi tertinggi sepuluh bulan terakhir.
Harga LNG sempat meningkat secara global setelah Chevron tidak mampu mencapai kesepakatan dengan serikat pekerja dan mencegah pemogokan di fasilitas ekspor Australia. Kondisi ini meningkatkan prospek produksi listrik berbahan bakar batu bara.
Selain itu, pemerintah China melakukan langkah-langkah dukungan yang terus-menerus untuk mendorong peningkatan aktivitas ekonomi dan pembangunan infrastruktur di negara tersebut. Upaya ini sempat menghambat permintaan energi.
Selain itu, kemungkinan pembatasan produksi baja dan aluminium mendorong tanur sembur dan pabrik peleburan melemahkan kontrol dan meningkatkan produksi dalam jangka pendek. Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan permintaan batu bara kokas dan termal.
Di dalam negeri, saham sejumlah emiten batu bara anjlok pada pembukaan perdagangan awal pekan, Senin (2/10).
Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk ( ADRO ) 1,05 persen pada pukul 09.35 WIB. Selanjutnya, PT Indo Tambangraya Megah Tbk ( ITMG ) juga turun 0,35 persen. Saham PT Bumi Resources Tbk ( BUMI ) juga turun 1,46 persen diikuti saham PT Byan Resources Tbk ( BYAN ) yang turun 0,26 persen.

Saham PT Harum Energy Tbk ( HRUM ) juga turun 1,33 persen pada waktu yang sama.
Sementara saham batu bara pelat merah, Bukit Asam Tbk ( PTBA ) menguat tipis 0,71 persen.
Kontradiksi Agenda Net-Zero Carbon
Sektor batu bara di Asia tengah berjuang dalam perubahan zaman menuju net-zero carbon. Mengutip Reuters, sektor batu bara tetap merupakan bagian dari bauran energi selama beberapa dekade mendatang.
Pada pertemuan industri batu bara terbesar, yakni Coaltrans Asia Conference yang diselenggarakan di Bali, Indonesia pada 24-26 September 2023, para pelaku usaha dibidang energi ini tetap optimis pada prospek harga batu bara.
Industri batu bara masih meyakini energi terbarukan tidak bisa dimanfaatkan dengan cepat, murah, dan dalam skala yang cukup untuk menyaingi bahan bakar fosil dari bauran energi Asia.
"Kenyataannya adalah permintaan batubara akan terus meningkat," Septian Hario Seto, Deputi Investasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, mengatakan pada konferensi tersebut dikutip Reuters (27/9).
Meskipun batu bara termal memang mendapat ancaman dari gas alam, namun pandangan pelaku pasar, mulai dari penambang, trader, pengguna, dan pejabat pemerintah, berpendapat bahwa batu bara tetap menjadi alternatif yang lebih murah dan aman.
Terdapat juga kesadaran bahwa transisi energi memiliki arti yang sangat berbeda di berbagai wilayah dan negara.
Sebagian besar negara-negara Eropa contohnya, dengan terjadinya lonjakan harga bahan bakar fosil dan kekhawatiran atas keamanan pasokan akibat invasi Rusia ke Ukraina menjadi pendorong untuk mempercepat peralihan ke energi terbarukan.
Model Asia untuk mencapai net-zero kemungkinan besar akan terlihat sangat berbeda dengan apa yang diupayakan di negara-negara maju.
Kesamaan yang mereka miliki adalah peralihan ke penggunaan listrik sebanyak mungkin untuk transportasi, industri dan perumahan.
Namun Asia masih menggunakan tenaga batu bara untuk meningkatkan elektrifikasinya. Setidaknya hasil karbon batu bara masih dianggap yang lebih baik dibandingkan terus menggunakan minyak dan gas.
Daya tarik batu bara adalah meskipun harga saat ini tinggi menurut standar historis, harga batu bara masih jauh lebih murah dibandingkan minyak mentah dan gas.
Geopolitik juga merupakan salah satu faktornya, dan importir energi Asia semakin waspada terhadap pengaruh OPEC +, dan ingin beralih dari ketergantungan pada bahan bakar yang harganya dimonopoli oleh negara-negara produsen.
Bahkan China, India, dan india saat ini sedang membangun 89 persen pembangkit listrik tenaga batu bara, menurut data dari Global Energy Monitor.
Meskipun ketiga negara ini juga mengembangkan energi terbarukan, fakta bahwa mereka meningkatkan penggunaan batu bara menunjukkan betapa berbedanya pandangan mereka terhadap transisi energi.

Sumber : idxchannel.com