Minyak Bangkit Lagi dari Kejatuhan Akibat Lonjakan Stok Amerika
Thursday, June 13, 2019       14:04 WIB

Ipotnews - Harga minyak menguat, Kamis siang, memulihkan sebagian kerugian dari kejatuhan di sesi sebelumnya, ketika anjlok empat persen karena kenaikan stok AS dan kekhawatiran tentang pertumbuhan permintaan yang lebih rendah.
Minyak mentah berjangka Brent melonjak 75 sen atau 1,3 persen menjadi USD60,72 per barel pada pukul 13.06 WIB, demikian laporan  Reuters , di Tokyo, Kamis (13/6). Brent merosot 3,7 persen pada sesi Rabu menjadi USD59,97 per barel, penutupan terendah patokan internasional itu sejak 28 Januari.
Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, meningkat 32 sen atau 0,7 persen menjadi USD51,46 per barel. WTI menyusut empat persen di sesi sebelumnya menjadi USD51,14 per barel, penutupan terendah sejak 14 Januari.
"Meningkatnya persediaan minyak mentah komersial di Amerika, bersama dengan tingginya produksi minyak mentah negara itu, memperkuat sentimen  bearish  di pasar," kata Abhishek Kumar, Kepala Analisis Interfax Global Energy.
Badan Informasi Energi (EIA), Rabu, melaporkan stok minyak mentah Amerika di luar dugaan meningkat untuk minggu kedua berturut-turut, naik 2,2 juta barel setelah analis memperkirakan penurunan 481.000 barel.
Di posisi 485,5 juta barel, stok komersial AS berada pada level tertinggi sejak Juli 2017 dan sekitar delapan persen di atas rata-rata lima tahun untuk saat ini, kata EIA.
Selasa, EIA memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2019. Prospek negatif itu mendorong manajer  hedge fund  untuk keluar dari posisi pada tingkat tercepat sejak kuartal keempat 2018 karena meningkatnya kekhawatiran tentang kesehatan ekonomi global.
Meningkatnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, dua konsumen minyak terbesar dunia, memicu kekhawatiran terbesar di antara para analis minyak, dengan konsultan dan perbankan memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan mereka.
Prospek ekonomi makro yang tidak pasti dapat menyebabkan Organisasi Negara Eksportir Minyak ( OPEC ) melanjutkan pemotongan pasokan yang telah diberlakukan dengan produsen lain.
OPEC dan produsen non-anggota termasuk Rusia membatasi produksi minyak mereka sebesar 1,2 juta barel per hari (bph) tahun ini guna menopang harga.
OPEC dijadwalkan bertemu akhir bulan ini, meski pertemuan produsen yang lebih luas--dikenal sebagai OPEC +--yang menyetujui pemotongan tersebut, mungkin tidak akan terjadi sampai awal Juli.
Kendati para pejabat dari beberapa anggota OPEC mengatakan kelompok yang lebih besar itu kemungkinan akan mengumumkan pemotongan, Aljazair mengusulkan peningkatan pengurangan, menurut narasumber yang akrab dengan masalah ini.
"Penurunan baru-baru ini terlihat pada harga minyak memperkuat kasus untuk kelanjutan dari perjanjian pengurangan produksi," kata Kumar.
"Namun demikian...negara-negara seperti Rusia khawatir mereka mungkin akan kehilangan lebih jauh pangsa pasar mereka ke AS dengan" melanjutkan pemotongan tersebut, katanya. (ef)

Sumber : Admin