Setelah Dibuka Kembali, Trafik di Pusat Perbelanjaan Tetap Lemah; Maintain Neutral
Thursday, July 09, 2020       10:59 WIB

Ipotnews - Konferensi online (concall) yang digelar Tim Riset Indo Premier dan perwakilan Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO) belum lama ini memberikan gambaran bahwa dengan kasus Covid-19 yang tetap tinggi, trafik [pergerakan barang dan pengunjung] di pusat-pusat perbelanjaan/mal tetap lemah, hanya sekitar 30% dari kapasitas normalnya. Penjualan makanan dan minuman (F&B) dan toko pakaian secara selektif menjadi penggerak utama akivitas mal.
 "   Maintain Neutral   ,  karena manfaat efisiensi belanja operasional (opex) dapat mengimbangi ekspektasi  inventory clearance  yang lebih buruk. tetap menjadi pilihan kami," tulis Kevie Aditya, Elbert Setiadharma, analis Tim Riset Indo Premier, dalam kesimpulan hasil kajiannya, Rabu (8/7).
Mereka mencatat meskipun hampir semua mal di seluruh Indonesia telah dibuka kembali, namun trafik tetap rendah terutama di kota-kota besar tingkat I, (Jakarta dan Surabaya), diperkirakan hanya sekitar 30% dari normal (dengan pembatasan kapasitas 50%). Meskipun demikian, trafik di kota kedua (Balikpapan), dan kota ketiga (Cirebon) lebih baik, sekitar 50-60% (tidak ada pembatasan kapasitas).
Tidak ada kegembiraan besar selama pembukaan kembali mal di Indonesia, jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Thailand. "Kami percaya situasi ini disebabkan oleh kasus Covid-19 yang terus-menerus tinggi karena segmen menengah ke atas tidak cukup percaya diri untuk mengunjungi mal (walaupun memiliki daya beli yang lebih baik). Sementara itu, daya beli segmen menengah-bawah terpukul parah karena banyak yang mengalami pemotongan gaji yang signifikan. Juga patut dicatat, non-mal (yaitu pasar tradisional, penjaja jalanan) lebih ramai daripada mal," papar Kevie dan Ebert.
Keramaian pengunjung secara selektif terlihat di perusahaan-perusahaan F&B dan toko-toko fesyen, dimana merek-merek terkenal melakukan   sale   pertengahan tahun (misal, Zara). Hippindo melihat adanya pergeseran ke belanja  online  (karena Covid-19) sebagai hal yang positif, karena pengecer  offline  yang ada sudah memiliki infrastruktur online yang lebih baik, dan juga didukung dengan merek terkenal untuk bersaing dengan pengecer  online  lainnya.
"Meskipun demikian, mereka melihat mulai menurunnya tren pembelian  online  dari posisi puncaknya pada bulan April-Mei. Beberapa pelanggan beralih kembali ke belanja  offline  ketika mal mulai dibuka," ungkap Kevie dan Elbert.
Ketika Covid-19 menghantam bisnis ritel dengan keras, Tim Riset mencatat, banyak pemain yang lebih kecil menutup bisnisnya, sedangkan pemain yang lebih besar mulai mempertimbangkan untuk mengurangi besaran tokonya. "Oleh karena itu, kami percaya bahwa pengecer (terutama     anchor tenant  , misal; ) akan dapat memperoleh tarif sewa yang lebih baik di paruh II-2020 (2H20), atau bahkan hingga tahun depan."
Pada bulan-bulan awal pembukaan kembali, pengecer juga terus-menerus menegosiasikan diskon sewa kepada pemilik gedung karena trafik tetap lemah (kemungkinan hingga 50% atau bahkan lebih).
Dengan memperhatikan berbagai kondisi tersebut. Tim Riset meyakini pertumbuhan penjualan jaringan toko ( SSSG ) dan marjin laba kotor (GPM) di 2Q20 akan turun. "Singkatnya, kami telah memperkirakan penurunan pendapatan agregat -47% yoy di FY20F. Pada catatan yang lebih positif, trafik membaik meskipun secara bertahap, sementara pemotongan biaya dapat terus mengurangi sebagian beban."
Tim Riset berpendapat, meskipun pelemahan pada FY20F sebagian telah diperhitungkan, pemulihan trafik di 2021F mungkin akan lambat dan bertahap. Oleh karena itu, "Kami mempertahankan rekomendasi Netral untuk sektor ini; menjadi pilihan utama kami karena sifatnya sebagai pengecer peralatan perbaikan rumah dan campuran produk yang sangat baik." (Tim Riset Indo Premier)

Sumber : admin
1,545
-1.6 %
-25 %

820

BidLot

148,867

OffLot