Bursa Wall Street Hijau Tipis, Investor Tunggu Keputusan The Fed
Wednesday, March 18, 2026       05:27 WIB
  • Wall Street naik, dipimpin saham maskapai, travel, dan energi.
  • Inflasi tetap diperhatikan karena minyak USD100/barel akibat konflik Teluk.
  • Ekspektasi pemangkasan suku bunga berkurang, beberapa saham teknologi turun.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street menguat, Selasa, didorong lonjakan saham maskapai dan travel, di tengah perhatian investor yang tertuju pada pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve serta meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Indeks berbasis luas S&P 500 ditutup naik 0,25% atau 16,71 poin menjadi 6.716,09, Nasdaq Composite Index menguat 0,47% atau 105,35 poin jadi 22.479,53, sementara Dow Jones Industrial Average meningkat 0,10% atau 46,85 poin ke posisi 46.993,26, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Selasa (17/3) atau Rabu (18/3) pagi WIB.
Dari 11 sektor utama S&P 500, delapan di antaranya mencatatkan kenaikan. Sektor energi memimpin dengan penguatan 1,02%, diikuti sektor konsumen diskresioner yang melesat sekitar 1%.
Saham maskapai dan perusahaan perjalanan mencatat rebound setelah sebelumnya tertekan akibat lonjakan harga energi dan konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.
Delta Air Lines melesat lebih dari 6%, sementara American Airlines melambung 3,5% setelah kedua perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan kuartal berjalan. United Airlines juga menguat 3,2%.
Di sektor pariwisata, Norwegian Cruise Line Holdings melompat lebih dari 2% dan Expedia Group melejit lebih dari 4%, mencerminkan optimisme investor terhadap permintaan perjalanan.
Di sisi lain, perhatian pasar tertuju pada kebijakan Federal Reserve yang memulai pertemuan dua hari pada Selasa. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga pada pengumuman yang dijadwalkan Rabu.
Kekhawatiran terhadap inflasi tetap tinggi seiring harga minyak bertahan di kisaran USD100 per barel, dipicu gangguan pasokan akibat penutupan jalur pelayaran Selat Hormuz. Kondisi ini menempatkan the Fed dalam posisi sulit antara mengendalikan inflasi dan merespons tanda-tanda pelemahan pasar tenaga kerja.
Data pasar menunjukkan ekspektasi investor terhadap pemangkasan suku bunga mulai berkurang. Kontrak berjangka kini hanya memperkirakan satu kali pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada akhir tahun, turun dari sekitar dua kali sebelum konflik meningkat, menurut LSEG .
Analis Baird Private Wealth Management, Ross Mayfield, memperingatkan bahwa risiko utama bagi pasar adalah jika the Fed menganggap lonjakan harga minyak sebagai tekanan inflasi yang serius dan merespons dengan kebijakan yang lebih agresif.
Dia menambahkan, skenario terbaik bagi pasar adalah jika bank sentral tetap konsisten dengan pendekatan sebelumnya, yakni tidak bereaksi berlebihan terhadap lonjakan harga energi.
Sejak mencapai rekor tertinggi pada akhir Januari, indeks S&P 500 terkoreksi sekitar 4%, dipengaruhi kekhawatiran terhadap valuasi saham teknologi berbasis kecerdasan buatan serta ketidakpastian geopolitik.
Saat ini, indeks tersebut diperdagangkan pada rasio harga terhadap laba (price-to-earnings ratio) sekitar 21 kali, lebih rendah dari lebih dari 23 kali pada November, namun masih di atas rata-rata lima tahun sebesar 19 kali.
Di pasar global, Bank Sentral Australia (RBA) kembali menaikkan suku bunga untuk bulan kedua berturut-turut, memperingatkan adanya risiko inflasi signifikan akibat konflik Timur Tengah.
Saham Uber melonjak 4,2% setelah perusahaan mengumumkan rencana peluncuran robotaxi di 28 kota mulai tahun depan dengan dukungan perangkat lunak mengemudi otonom dari Nvidia.
Sektor keuangan juga pulih dengan kenaikan 0,5% setelah sebelumnya tertekan oleh kekhawatiran terhadap kualitas kredit swasta. Saham Blackstone melesat 4,6%, Apollo Global melambung 5,3%, dan KKR melompat 3,3%.
Volume perdagangan di bursa Wall Street relatif sepi, dengan sekitar 16,9 miliar saham diperdagangkan, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 sesi sebelumnya yang mencapai 19,8 miliar saham.
Di sektor energi, saham Occidental dan ConocoPhillips masing-masing menguat sekitar 1% seiring kenaikan harga minyak.
Namun tidak semua saham menghijau. Honeywell International melorot 1,3% setelah memperingatkan bahwa konflik Timur Tengah dapat memengaruhi pendapatan kuartal pertama. Eli Lilly anjlok hampir 6% setelah diturunkan peringkatnya oleh HSBC dari "hold" menjadi "reduce."
Secara keseluruhan, jumlah saham yang naik di S&P 500 lebih banyak dibandingkan yang turun dengan rasio 1,7 banding 1. Indeks tersebut mencatatkan 21 saham mencapai level tertinggi baru dan dua saham menyentuh level terendah baru, sementara Nasdaq membukukan 51 saham di posisi tertinggi baru dan 137 di posisi terendah baru. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-International Business Machines (2,75%)
-Walt Disney Company (1,66%)
-Amazon.com Inc (1,63%)
Saham berkinerja terburuk
-Johnson & Johnson (-2,09%)
-Salesforce Inc (-1,53%)
-Amgen Inc (-1,39%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Western Digital Corporation (9,65%)
-Celanese Corporation (7,28%)
-Delta Air Lines Inc (6,53%)
Saham berkinerja terburuk
-Eli Lilly and Company (-5,94%)
-Corpay Inc (-3,96%)
-Intel Corporation (-3,76%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Lunai Bioworks Inc (162,77%)
-U Power Ltd (62,73%)
-bioAffinity Technologies Inc (43,46%)
Saham berkinerja terburuk
-Meiwu Technology Co Ltd (-79,97%)
-Aldeyra Therapeutics Inc (-70,92%)
-Creative Media & Community Trust Corporation (-69,61%)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM