Bursa Wall Street Terjun Bebas, Minyak Melambung di Tengah Ketegangan Iran
Friday, March 13, 2026       04:44 WIB
  • Wall Street turun akibat serangan Iran dan harga minyak mendekati USD100/barel.
  • Lonjakan energi picu inflasi dan tekan ekspektasi pemangkasan suku bunga.
  • Sektor energi bertahan, beberapa saham seperti Bumble dan pupuk naik.

Ipotnews - Bursa ekuitas Wall Street terjerembab, Kamis, dipicu serangan Iran terhadap dua kapal tanker minyak yang mendorong harga minyak mentah mendekati USD100 per barel. Lonjakan harga energi ini memperkuat kekhawatiran inflasi dan menyebabkan investor meninggalkan pasar ekuitas.
Ketiga indeks utama Wall Street mengalami penurunan lebih dari 1,5 persen dalam aksi jual luas, dengan sektor energi dan beberapa saham defensif menjadi satu-satunya yang relatif bertahan. Indeks S&P 500 mencatat penurunan tiga hari terbesar dalam sebulan terakhir.
Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup anjlok 739,42 poin atau 1,56% jadi 46.677,85, S&P 500 kehilangan 103,22 poin atau 1,52% menjadi 6.672,58, dan Nasdaq Composite Index merosot 404,15 poin atau 1,78% ke 22.311,98, demikian laporan  Reuters  dan  Investing,  di New York, Kamis (12/3) atau Jumat (13/3) pagi WIB.
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, menegaskan akan menutup Selat Hormuz, jalur krusial bagi pengiriman minyak global. Sementara itu, International Energy Agency memperingatkan, perang terhadap Iran menciptakan gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah, memicu kekhawatiran kenaikan tekanan inflasi.
Harga minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman bulan depan melonjak 9,7%, sedangkan Brent melesat 9,2%, menyentuh USD100 per barel.
Pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan meminta perusahaan minyak dan pengangkut AS mempersiapkan kemungkinan pengecualian terhadap Jones Act, aturan pengiriman domestik yang telah berlaku selama satu abad, guna meredam lonjakan harga bahan bakar.
"Pasar menyadari bahwa penyelesaian konflik Timur Tengah semakin tertunda," kata Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group di Omaha. "Mentalitas saat ini adalah jual dulu, tanya nanti. Tidak ada sektor aman kecuali energi."
Pertemuan Federal Reserve dijadwalkan pada 17 Maret, dan meski data inflasi terbaru menunjukkan pertumbuhan harga masih terkendali, dampak perang Iran yang baru berjalan 13 hari serta lonjakan harga minyak belum tercermin sepenuhnya dalam data. Meski bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga utama, ringkasan proyeksi ekonomi yang diperbarui akan menjadi sorotan, terutama terkait perkiraan inflasi.
Detrick menambahkan bahwa di balik lonjakan harga minyak, investor menyadari kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh the Fed tahun ini semakin kecil.
Kekhawatiran kualitas kredit juga meningkat. Firma ekuitas swasta Swiss, Partners Group, memperingatkan bahwa tingkat gagal bayar kredit swasta dapat meningkat dua kali lipat dalam beberapa tahun mendatang. Di saat bersamaan, Morgan Stanley membatasi penarikan dana dari salah satu reksa dana kredit swastanya, sementara JPMorgan Chase menurunkan nilai beberapa pinjaman ke reksa dana kredit swasta. Saham keduanya masing-masing melorot 4,1% dan 1,6%.
Di sisi regulasi, Vice Chair Federal Reserve, Michelle Bowman, menguraikan perubahan aturan yang melonggarkan persyaratan kas yang harus disimpan bank untuk potensi kerugian, langkah yang dianggap sebagai kemenangan bagi pemberi pinjaman Wall Street.
Di antara 11 sektor utama S&P 500, energi menjadi sektor dengan kenaikan terbesar, melonjak 1%, sedangkan sektor industri merosot 2,5%--penurunan paling tajam.
Saham operator aplikasi kencan, Bumble, meroket 34,2% setelah panduan pendapatan kuartal keempat melampaui ekspektasi. Sebaliknya, pengecer diskon Dollar General ambles 6,1% menyusul proyeksi penjualan tahunan yang mengecewakan.
Perusahaan pupuk pertanian yang juga mengandalkan pengiriman melalui Selat Hormuz mencatat kenaikan harga seiring melonjaknya harga energi. Indeks S&P Fertilizer and Agricultural Chemicals melesat 4,9%. Saham perusahaan kimia LyondellBasell dan Dow masing-masing melambung 10,3% dan 9,3% setelah Citigroup meningkatkan rekomendasi karena peluang ekspor baru akibat gangguan rantai pasok di Timur Tengah.
Jumat, sejumlah indikator ekonomi penting dirilis, termasuk sentimen konsumen, pesanan barang tahan lama, lowongan pekerjaan dan pergantian tenaga kerja, serta laporan pengeluaran konsumsi pribadi yang luas.
Di New York Stock Exchange, jumlah saham yang turun mengungguli yang naik dengan rasio 4,18 banding 1, sementara ada 117 saham mencetak rekor tertinggi dan 198 saham mencatat rekor terendah.
Di Nasdaq, 1.100 saham menguat dan 3.600 saham melemah, dengan rasio 3,27 banding 1 untuk yang turun terhadap yang naik.
S&P 500 mencatat 17 saham baru di level tertinggi 52 minggu dan 25 saham baru di level terendah, sedangkan Nasdaq Composite memiliki 33 saham baru di level tertinggi dan 172 saham baru di posisi terendah.
Volume perdagangan di bursa Wall Street mencapai 19,96 miliar saham, sedikit di bawah rata-rata 20,05 miliar saham selama 20 hari sesi terakhir. (Reuters/Investing/AI)
Saham berkinerja terbaik Dow
-Chevron Corp (2,70%)
-Salesforce Inc (2,65%)
-Walmart Inc (1,49%)
Saham berkinerja terburuk
-Goldman Sachs Group Inc (-4,40%)
-Boeing Co (-4,36%)
-3M Company (-3,91%)
Saham berkinerja terbaik S&P 500
-Celanese Corporation (14,75%)
-CF Industries Holdings Inc (13,21%)
-LyondellBasell Industries NV (10,33%)
Saham berkinerja terburuk
-Charles River Laboratories (-9,62%)
-Estee Lauder Companies Inc (-7,92%)
-Carnival Corporation (-7,89%)
Saham berkinerja terbaik Nasdaq
-Agroz Inc (153,55%)
-Lightwave Logic Inc (41,04%)
-Vera Bradley Inc (35,74%)
Saham berkinerja terburuk
-Incannex Healthcare Ltd ADR (-48,41%)
-Decent Holding Inc (-41,19%)
-Paranovus Entertainment Technology Ltd (-32,02%)

Sumber : Admin

powered by: IPOTNEWS.COM