- Bursa saham Asia dibuka bervariasi menjelang keputusan The Fed yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga 25 basis poin.
- Harga minyak melonjak setelah gangguan ekspor Saudi, sementara yield US Treasury 10 tahun menembus 5%.
- IHSG diperkirakan masih rawan tertekan setelah turun 1,13% ke 6.461, dengan support 6.400 di tengah sikap wait and see investor.
Ipotnews - Bursa saham Asia pagi ini, Rabu (16/9), dibuka bervariasi berusaha keluar dari tren penurunan indeks acuan pada sesi penutuoan bursa saham utama Eropa dan Wall Street, jelang keputusan suku bunga The Fed..
Laman CNBC melaporkan, pasar berjangka memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu dengan probabilitas 92%, berdasarkan CME FedWatch. Peluang kenaikan tambahan 25 basis poin mencapai 45% pada rapat The Fed Oktober dan 30% pada rapat Desember. Kisaran target suku bunga saat ini berada di 3,5%-3,75%.
Harga minyak mentah naik setelah Arab Saudi dilaporkan membatalkan sebagian pengiriman, menyusul serangan drone terhadap jaringan pipa ekspor utamanya. Harga minyak West Texas Intermediate AS dan Brent meloncat 4,4% dan 2,9%.
Imbal hasil US Treasury melonjak karena ekspektasi kenaikan harga dalam perekonomian. Yield US Treasury 10 tahun terakhir berada sedikit di atas 5%, sedangkan yield tenor 30 tahun mencapai 5,369%.
Perdagangan saham hari ini dibuka dengan mencatatkan kenaikan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,24%. Indeks berlanjut sedikit menguat 0,01% di posisi 8.673,80 pada pukul 8:15 WIB.
Indeks Kospi Korea Selatan dibuka relatif datar, sedangkan indeks Kosdaq melorot 0,69%. Kospi berlanjut naik 0,60% menjadi 6.667,01.
Pada jam yang sama indeks Nikkei 225 Jepang turun tipis 0,02% di posisi 63.468,86, setelah dibuka melemah 0,17%, sementara Topix naik 0,55%.
Kontrak berjangka indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 24.762, lebih tinggi dibandingkan penutupan sebelumnya di 24.667,24.
Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) hari ini diperkirakan masih rawan tekanan jual, setelah mengakhiri sesi perdagangan kemarin dengan merosot 1,13 persen ke 6.461 tekanan jual. Harga ETF saham Indonesia, iShares MSCI Indonesia ETF ( EIDO ), di New York Stocks Exchange juga merosot 1,20% ke posisi USD12,79.
Beberapa analis memperkirakan pergerakan IHSG hari ini masih berisiko terkoraksi lebih lanjut. Secara teknikal, indeks rawan menguji level support 6.400, berpeluang menembus 6.500 selama mampu bertahan di atas 6.450.
Analis Indo Premier berpendapat, IHSG tertekan lonjakan harga minyak dan kenaikan biaya pinjaman global pada perdagangan kemarin. Investor cenderung berhati-hati menjelang keputusan suku bunga The Fed malam ini.
Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street pagi tadi berakhir melemah, melanjutkan aksi jual di tengah kenaikan imbal hasil US Treasury dan harga minyak. Sentimen risk-off meluas hampir ke seluruh sektor. Harga minyak WTI melonjak 4,4% dan Brent naik 2,9%. Investor juga mengantisipasi keputusan The Fed dengan pasar memperkirakan kenaikan suku bunga 25 bps pada Rabu. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menembus 5%, meningkatkan tekanan terhadap perusahaan dengan utang besar.
Dari 11 sektor utama S&P 500, saham consumer discretionary turun terbesar.
Sektor energi menjadi satu-satunya yang menguat (+2,3%). Aset kripto tertekan setelah Senat AS tidak melanjutkan pembahasan UU cryptocurrency. Saham Coinbase dan Strategy terjungkal 10,1% dan 5,4%. Indeks Philadelphia SE Semiconductor naik 0,4%. Saham Dave & Buster's rontok 19%. Saham Waystar melesat 7,1%
- Dow Jones Industrial Average turun 0,63% ke 52.093,11.
- S&P 500 berkurang 0,45% menjadi 7.585,73.
- Nasdaq Composite melorot 0,78% ke 25.981,57.
Bursa saham utama Eropa tadi malam berakhir melemah. Kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi memperkuat kekhawatiran inflasi serta menekan minat investor terhadap aset berisiko. Imbal hasil US Treasury 10 tahun menembus 5%, sementara imbal hasil obligasi zona euro mencapai level tertinggi dalam 17 tahun. Lowongan pekerjaan di Inggris turun ke level terendah dalam empat tahun. Sentimen investor Jerman stabil pada September.
Indeks STOXX 600 melemah 0,28% menjadi 634,18. Sektor perbankan dan jasa keuangan menjadi penekan utama, merosot 0,9% dan 1,9%. Saham UBS drop 3,4%. Saham LVMH anjlok 2,6%. Indeks saham barang mewah Eropa merosot 1,5%. Puig terkoreksi 2,2%. Sektor energi melaju 1,3% seiring kenaikan harga minyak.
- DAX Jerman berkurang 0,15% menjadi 25.402,28.
- FTSE 100 Inggris turun 0,37% menjadi10.658,13.
- CAC 40 Prancis terkoreksi 0,34% menjadi 8.090,28.
Nilai Tukar Dolar AS
Kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia pagi tadi di AS berakhir menguat, didukung lonjakan harga minyak dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Yield US Treasury 10 tahun menembus 5,041%, tertinggi sejak 2007, menjelang keputusan suku bunga The Fed. Harga minyak bertahan di atas USD105 per barel akibat meningkatnya risiko gangguan pasokan di Timur Tengah. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga, dengan probabilitas mencapai 95%.
Indeks Dolar AS (DXY) menguat 0,15% menjadi 99,631. Euro dan poundsterling melemah menjelang keputusan suku bunga Bank of England. Dolar menguat terhadap yen. Investor mencermati sinyal The Fed setelah keputusan suku bunga untuk menentukan arah dolar dan ekspektasi kebijakan berikutnya. Kekhawatiran inflasi akibat kenaikan energi serta potensi siklus kenaikan suku bunga baru berisiko menekan aset-aset berisiko.
Kurs spot dolar
Currency | Value | Change | % Change | Time (ET) |
Euro (EUR-USD) | 1.1538 | 0.00 | 0.05% | 7:15 PM |
Yen (USD-JPY) | 155.18 | 0.08 | 0.05% | 7:15 PM |
Poundsterling (GBP-USD) | 1.3475 | 0.00 | 0.02% | 7:16 PM |
Rupiah (USD-IDR) | 17,694 | 25.00 | 0.14% | 3:59 AM |
Yuan (USD-CNY) | 6.7117 | 0.00 | 0.02% | 2:59 PM |
Sumber : Bloomberg.com, 15/9/2026 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea dini hari tadi ditutup melonjak. Aktivitas pemuatan minyak di terminal Yanbu, Arab Saudi, dihentikan akibat gangguan pada jalur ekspor. Investor beralih ke minyak AS sebagai alternatif, sehingga kenaikan WTI melampaui Brent. Serangan Houthi terhadap jaringan pipa East-West mengancam hingga 4% pasokan minyak global, mengganggu ekspor selama beberapa pekan. Goldman Sachs memperkirakan harga Brent bisa menembus USD120 per barel.
Risiko pasokan juga meningkat dari Libya setelah operasi di tiga ladang minyak dihentikan akibat aksi protes dan penutupan katup pipa ekspor. Serangan Rusia-Ukraina terhadap infrastruktur energi ikut mengerek harga diesel. Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz turun menjadi empat kapal pada Senin dari 10 kapal sehari sebelumnya, menambah kekhawatiran pasokan energi global.
- Harga Brent berjangka melonjak 2,9% ke USD108,75 per barel.
- Harga WTI berjangka meloncat 4,38% ke USD105,83 per barel.
Harga emas di bursa berjangka AS pagi tadi ditutup melemah, tertekan penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury. Kenaikan harga minyak memperbesar kekhawatiran inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Pasar memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00% pada Rabu. Yield US Treasury 10 tahun melonjak ke level tertinggi sejak 2007, mengurangi daya tarik emas.
Penguatan dolar turut membuat emas lebih mahal bagi pemegang mata uang lain dan menekan permintaan.Gangguan pasokan minyak di Arab Saudi dan Libya meningkatkan risiko inflasi global serta berpotensi memperpanjang tekanan terhadap emas.Harga logam mulia lainnya; perak naik 0,3% menjadi USD63,41 per ounce, platinum meningkat 0,7% ke posisi USD1.772,32 dan paladium menguat 0,1% di USD1.294,14.
- Harga emas di pasar spot melemah 0,1% di USD4.293,29 per ounce.
- Harga emas berjangka AS turun 0,4% menjadi USD4.332,80 per ounce.
(AFP, CNBC , Reuters)