- Dow turun 0,58%, S&P 500 hampir datar, dan Nasdaq naik tipis, setelah minggu bergelombang dipicu kekhawatiran geopolitik dan prospek suram Intel.
- Saham Intel merosot 17% karena perkiraan pendapatan dan laba kuartalan di bawah ekspektasi, menyoroti periode "show-me" bagi sektor teknologi dan AI.
- Microsoft, Meta, Amazon, dan Nvidia naik, sementara sektor energi mencatatkan penutupan tertinggi untuk ketiga kalinya berturut-turut, mendukung sebagian indeks.
Ipotnews - Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah pada Jumat (23/1) akhir pekan ini. Sementara Indeks S&P 500 bergerak stagnan seiring selera risiko investor menurun di akhir pekan yang bergelombang akibat kejatuhan saham Intel karena prospek yang suram.
Ketiga indeks saham tolok ukur Wall Street sempat rebound dalam dua sesi perdagangan sebelumnya setelah penurunan tajam pada Selasa yang dipicu oleh ancaman Presiden AS Donald Trump untuk memberlakukan tarif pada sekutu Eropa, sebagai upaya menekan mereka agar menerima klaimnya atas Greenland.
Indeks Dow Jones Industrial Average turun 285,30 poin atau 0,58% ke level 49.098. Indeks S&P 500 naik tipis 2,26 poin atau 0,03% ke 6.915 dan Nasdaq Composite bertambah 65,23 poin atau 0,28% menjadi 23.501.
Meski Nasdaq menguat pada Jumat, hal itu tidak cukup untuk menghindarkan indeks-indeks utama dari catatan pekan negatif. Indeks S&P 500 turun 0,36% secara mingguan, Dow melemah 0,53%, dan Nasdaq turun tipis 0,06%.
Meski koreksi mingguan terbatas, investor tampak tetap percaya diri bahwa volatilitas yang dipicu geopolitik memang menjadi risiko saat ini, tetapi kondisi ekonomi AS secara keseluruhan tetap kuat.
"Dari sudut pandang investor, kami merasa cukup baik dengan posisi kita saat ini," kata Jason Blackwell, kepala strategi investasi di Focus Partners Wealth.
Ia menambahkan, volatilitas memang diperkirakan akan terjadi tahun ini menjelang pemilu paruh waktu pada 2026. Namun, laba perusahaan diperkirakan tetap kuat, dan ekonomi berjalan dengan baik. "Kami merasa cukup baik, tetapi tetap sadar bahwa mungkin akan ada liku-liku signifikan sepanjang tahun," ujar Blackwell.
Salah satu faktor yang menekan sentimen pasar pada Jumat adalah produsen chip Intel. Sahamnya merosot 17% setelah perusahaan memperkirakan pendapatan dan laba kuartalan di bawah ekspektasi pasar, dengan alasan kesulitan memenuhi permintaan chip server yang digunakan di pusat data AI.
Dengan banyak perusahaan teknologi dan semikonduktor yang masih diperdagangkan dengan valuasi tinggi, tahun 2026 dipandang banyak pihak sebagai tahun di mana antusiasme besar terhadap tren kecerdasan buatan dan pengeluaran modal besar harus mulai tercermin dalam pendapatan perusahaan.
Julian McManus, manajer portofolio tim Global Alpha Equity di Janus Henderson, menyoroti bahwa laporan laba TSMC pekan lalu, produsen chip AI canggih utama dunia, bisa menjadi indikator bagi hasil terbaru dari sektor ini.
"Kita akan berada dalam periode 'show-me', di mana pertumbuhan pendapatan harus benar-benar terlihat untuk membenarkan kenaikan harga saham," katanya. "Ini akan menjadi periode bagi yang berhasil versus yang tidak, dan saya pribadi tidak melihat Intel termasuk yang berhasil."
Periode 'show-me' ini akan sangat relevan bagi investor minggu depan, dengan laporan laba dari banyak saham yang disebut 'Magnificent Seven', termasuk Apple, Tesla, dan Microsoft.
Pada Jumat, sebagian besar saham megacap menguat, dengan Microsoft, Meta, dan Amazon naik antara 1,7% hingga 3,3%. Nvidia naik 1,5% setelah Bloomberg News melaporkan pejabat China memberi tahu Alibaba, Tencent, dan ByteDance untuk mempersiapkan pesanan chip AI Nvidia H200.
Di antara sub-sektor S&P, tujuh subsektor berakhir di zona positif, dipimpin oleh kenaikan 0,9% pada sektor material. Indeks sektor energi naik 0,6% pada Jumat, mencatat penutupan tertinggi untuk ketiga kalinya berturut-turut. Sektor ini juga menjadi sub-indeks terbaik sepanjang minggu, dengan kenaikan 10,1% sejak awal 2026 yang tak tertandingi.
Jumlah saham yang diperdagangkan di bursa AS pada Jumat mencapai 17,34 miliar, dibandingkan rata-rata 17,07 miliar selama 20 hari perdagangan terakhir.
(reuters)
Sumber : admin