Bursa Pagi: Asia Dibuka Mixed, IHSG Bullish dengan Sedikit Potensi Koreksi
Monday, October 21, 2019       08:27 WIB

Ipotnews - Mengawali pekan keempat Oktober, Senin (21/10), bursa saham Asia dibuka  mixed , di tengah ketidakpastian rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Parlemen Inggris menghendaki penundaan pelaksanaan Brexit yang telah disepakati PM Boris Johnson dan Uni Eropa pada 31 Oktober mendatang. Indeks MSCI Asia ex-Jepang bergerak mendatar.
Perdagangan saham pekan ini diawali dengan mencatatkan penurunan indeks ASX 200, Australia sebesar 0,34% dengan menempatkan sebagaian besar sektor di teritori negatif. Indeks berlanjut turun 0,28% (-18,90 poin) menjadi 6.630,80 pada pukul 8:10 WIB.
Pada jam yang sama, indeks Nikkei 225, Jepang bergerak naik 0,20% (45,82 poin) ke posisi 22.538,50, setelah dibuka menguat 0,19%, dan Topix naik 0,35%, diwarnai pelemahan yen terhadap dolar AS. Indeks Kospi, Korea Selatan juga dibuka menguat 0,20%, dan berlanjut dengan hanya menguat tipis 0,05% di lecel 2.061,77.
Indeks Hang Seng, Hongkong dibuka cenderung mendatar dengan sedikit melemah 0,02% (-4,36 poin) di posisi 26.716,22 pada pukul 8:35 WIB. Indeks Shanghai Composite, China juga melemah 0,14% menjadi 2.933,90.
Pembukaan Indeks Harga Saham Gabungan ( IHSG ) pagi ini dihadapkan pada pergerakn indeks di bursa saham Asia yang bervariasi, setelah berhasil mengakhiri pekan lalu dengan mencatatkan penguatan tipis 0,18% di posisi 6.191.
Sejumlah analis memperkirakan, pergerakan IHSG hari ini masih berpeluang melanjutkan manuvernya di zona hijau dengan potensi koreksi yang semakin mengecil. Secara teknikal, beberapa indikator pergerakan indeks memperlihatkan adanya potensi  bullish continuation  di area negatif.
Tim Riset Indo Premier berpendapat, melemahnya indeks bursa global seiring dengan turunnya beberapa emiten, diprediksi akan menjadi sentimen negatif di pasar. Di sisi lain, menguatnya nilai tukar rupiah serta harga CPO diprediksi akan menjadi katalis positif bagi indeks.
Investor juga akan mencermati pengumumansusunan kabinet terbaru oleh Jokowi serta rilislaporan keuangan kuartal III/2019. IHSG diprediksi akan bergerak bervariasi cenderung menguat dengan  support  di level 6.160 dan  resistance  di level 6.220.
Beberapa ekuitas yang direkomendasikan, antara lain;
  • Saham: (Buy, Support: Rp1.580, Resist: Rp1.675), (Buy, Support: Rp1.700, Resist: Rp1.800), (Buy, Support: Rp4.170, Resist: Rp4.210), (Buy, Support: Rp2.220, Resist : Rp2.320).
  • ETF: (Buy, Support: Rp1.109, Resist: Rp1.119), (Buy, Support: Rp488, Resist: Rp493), (Buy, Support: Rp491, Resist: Rp495).

Amerika Serikat dan Eropa
Perdagangan saham di bursa Wall Street mengakhiri pekan lalu dwngan membukukan penurunan tajam, terseret kejatuhan harga saham Johnson & Johnson serta Boeing. Harga saham Boeing rontok 6,8% setelah Reuters memberitakan adanya indikasi Boeing menyesatkan Administrasi Penerbangan Federal mengenai keselamatan pesawat 737 MAX. Johnson & Johnson terpenggal 6,2% karena mengumumkan penarikan bedak bayi di AS yang tercemar asbes. Sebanyak 73 emiten S&P 500 telah merilis kinerja, 81% diantaranya mencetak kinerja di atas perkiraan.
Data perekonomian yang suram memperburuk sentimen risiko yang membayangi katalis positif rilis kinerja laba emiten. Pertumbuhan PDB China melambat ke level terlemah dalam hampir 30 tahun karena dampak perang dagang dengan AS. IMF memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini menjadi 3% paling lambat sejak krisis 2008-2009. Saham sektor teknologi berguguran; Netflix longsir lebih dari 6%, Facebook drop 2,2%, dan Amazon melorot 1,6%. Saham American Express Co merosot 2%, meskipun berhasil mencetak laba pada kuartal III. Coca Cola Co melaju 1,8% setelah rilis kinerja kuartal III yang mengalahkan estimasi analis.
  • Dow Jones Industrial Average anjlok 0,95% (-255,68 poin) ke level 26.770,20.
  • S&P 500 turun 0,39% (-11,75 poin) menjadi 2.986.
  • Nasdaq Composite melorot 0,83% (-76,31 poin) ke posisi 8.089,54.

Harga ETF saham Indonesia ( EIDO ) di New York Stocks Exchange naik 0,73% menjadi USD24,93.
Bursa saham utama Eropa akhir pekan lalu juga ditutup melemah, terseret kejatuhan harga saham unggulan Renault dan Danone. Indeks STOXX 600, turun 0,32% menjadi 391,84, dipimpin kejatuhan harga saham Renalut sebesar 11,5% karena memproyeksikan penurunan laba tahunan. Saham Volvo AB (Swedia) sempat terpukul 5%, ditutup naik 2,4% karena proyeksi laba yang diperkirakan akan mengalahkan konsensus. Saham Danone rontok 8,4% karena memperkirakan pertumbuhan penjualan 2019 akan lesu.
PM Inggris Boris Johnson mencapai kesepakatan Brexit dengan Uni Eropa pada hari Kamis pekan ini. Namun kekhawatiran masih tetap menguat karena kesepakatan tersebut masih harus melewati persetujuan parlemen. Pada pemungutan suara, Sabtu (19/10), sebagian besar anggota parlemen Inngris menghendaki penundaan Brexit hingga Januari. Fokus para investor juga ke arah periode penerbitan kinerja emiten kuartal ketiga yang akan dimulai pada pekan depan. Data IBES dari Refinitiv memperkirakan kinerja pendapatan diperkirakan akan makin melemah pada kuartal ketiga.
  • DAX 30 Frankfurt melemah 0,17% (-21,35 poin) menjai 12.633,60.
  • FTSE 100 London turun 0,44% (-31,75 poin) ke posisi 7.150,57.
  • CAC 40 Paris melorot 0,65% (-36,82 poin) ke level 5.636,25.

Nilai Tukar Dolar AS
Nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang dunia di pasar uang New York akhir pekan lalu ditutup melemah. Euro dan poundsterling menguat karena optimisme Brexit setelah Inggris dan Uni Eropa mengumumkan pencapaian kesepakatan baru. Mata uang  safe haven,  yen dan franc Swiss juga menguat terhadao dolar AS. Pasar keuangan memperhitungkan 82% peluang pemotongan suku bunga pada rapa kebijakan The Fed akhir Oktober ini. Indeks dolar AS, yang mengukur kurs  greenback  terhadap enam mata negara maju turun 0,33% menjadi 97,282.
Nilai Tukar Dolar AS di Pasar Spot

Currency

Value

Change

% Change

Euro (EUR-USD)

1.1166

0.0041

+0.37%

Poundsterling (GBP-USD)

1.2984

0.0093

+0.72%

Yen (USD-JPY)

108.45

-0.21

-0.19%

Yuan (USD-CNY)

7.0817

0.004

+0.06%

Rupiah (USD-IDR)

14,147.50

-7.50

-0.05%

Sumber : Bloomberg.com, 18/10/2019 (ET)
Komoditas
Harga minyak mentah West Texas Intermediate dan Brent North Sea di bursa komoditas New York Mercantile Exchange dan London ICE Futures Exchanges akhir pekan lalu ditutup melemah. Pertumbuhan ekonomi China melambat jadi 6 persen (YoY) pada kuartal III tahun ini, terlemah dalam 3 dekade terakhir, namun cadangan kilang minyak China di periode September naik 9,4%. Ini adalah sinyal permintaan minyak oleh China sebagai importir minyak terbesar dunia tetap kuat meski ada hambatan ekonomi.
Di AS, penurunan cadangan produk minyak meredam dampak kenaikan stok minyak mentah yang meningkat 9,3 juta barel dalam sepekan, hingga 11 Oktober lalu. Perusahaan energi AS menambah jumlah operasi rig dalam dua pekan berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Juni, menjaadi 713 rig. Laporan bulanan OPEC , menyebutkan penurunan prakiraan pertumbuhan permintaan minyak 2019 menjadi 0,98 juta barel per hari, namun mempertahankan prakiraan pertumbuhan permintaan 2020 sebesar 1,08 juta bph. OPEC + menyetujui untuk membatasi output sebesr 1,2 juta barel hingga Maret 2020.
  • Harga minyak mentah berjangka Brent turun 58 sen menjadi USD 59,35 per barel.
  • Harga minyak mentah berjangka WTI turun 15 sen menjadi USD 53,78 per barel.

Harga emas di bursa berjangka COMEX New York Mercantile Exchange pada akhir pekan lalu bergerak turun, gagal memnafaatkan pelemahan dolar AS. Di Eropa, investor ragu apakah kesepakatan Brexit, Uni Eropa-Inggris akan mendapat persetujuan parlemen Inggris. Ketidakpastian perang dagang AS-China, serta kekhawatiran perlambatan ekonomi global menjaga emas pada jalur penguatan mingguan meski tipis. Investor menunggu sinyal dari The Fed tentang dampak perlambatan perdagangan global terhadap ekonomi AS.
  • Harga emas di pasar spot stagnan di harga USD 1.491,71 per ounce.
  • Harga emas berjangka turun USD4,20 menjadi USD 1.494 per ounce.

(AFP, CNBC , Reuters)
1,985
0.0 %
0 %

0

BidLot

0

OffLot