- IHSG mulai bangkit di awal pekan setelah tertekan pada minggu lalu, dibuka di level 6.988 dan menguat hingga menyentuh 7.038
- Tekanan sebelumnya dipicu oleh net sell asing yang besar (Rp17,7 triliun dalam sebulan, Rp1,6 triliun pada Jumat) serta pelemahan rupiah ke Rp17.378 per dolar AS.
- Sentimen global dan domestik masih membayangi, seperti potensi kenaikan inflasi akibat lonjakan harga minyak serta ketidakpastian kebijakan The Fed
Ipotnews - IHSG di awal pekan ini, Senin (4/5) dibuka menguat di level 6.988 atau naik 32 poin dari penutupan perdagangan minggu lalu yang turun terperosok 2,03 persen ke level 6.956, lesatan lumayan setelah dua pekan tertekan dalam.
Kemudian pada pukul 09.04 WIB, indeks mencoba terus bangkit dengan menguat 1,10 persen atau 76 poin ke level 7.033. Indeks sempat menyentuh level tertinggi 7.038 dan terendah di level 6.988 yang konsisten di zona hijau.
Sebanyak 405 emiten yang bergerak menguat, 196 emiten melemah dan 358 emiten stabil. Frekuensi transaksi mencapai 188,1 ribu kali dengan nilai Rp2,74 triliun serta kapitalisasi pasar mencapai Rp12,56 triliun.
Delapan sektor menguat dan tiga sektor lainnya melemah. Sektor yang melemah yaitu transportasi -1,27 persen ke level 2.168, teknologi -0,81 persen menjadi 7.654 dan kesehatan -0,33 persen menjadi 1.713.
Untuk sektor yang menguat yaitu bahan baku 2,34 persen menjadi 2.192, sektor industri 1,31 persen menjadi 2.088, properti 0,91 persen menjadi 927.
Selanjutnya konsumer non primer 0,71 persen menjadi 731, konsumer primer 1,36 persen menjadi 1.076, energi 0,65 persen ke level 4.3.779, keuangan 0,17 persen ke level 1.360 dan sektor infrastruktur 1,65 persen menjadi 2.051.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas ( IPOT ), David Kurniawan dalam paparan Market Update melalui Instagram Live menjelaskan bahwa IHSG di pekan lalu masih mengalami tekanan jual yang cukup tinggi. Bahkan sepanjang satu bulan terakhir, investor asing tercatat melakukan aksi jual bersih mencapai Rp17,7 triliun, dengan net sell pada Jumat saja menyentuh Rp1,6 triliun.
Tren pelemahan IHSG diperburuk oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp17.378 per dolar AS. "Kita tertekan dari berbagai sisi baik dari sisi perekonomian atau juga dari sisi pasar saham," kata David.
Selain itu investor turut menanti rilis data inflasi dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang akan diumumkan hari ini. David memperkirakan inflasi kemungkinan naik, seiring peningkatan harga minyak terutama untuk varian non-subsidi yang hampir dua kali lipat. Kenaikan harga energi tersebut berpotensi mendorong tekanan tambahan pada pergerakan IHSG .
Tidak hanya dari domestik, tetapi juga pasar global yang masih bergerak tidak menentu. Indeks Wall Street pada sesi perdagangan terakhir ditutup variatif dan hingga pekan lalu tensi geopolitik belum menunjukkan kejelasan. Secara teknikal, pasar global masih berada dalam posisi sideways.
David menambahkan bahwa kebijakan bank sentral AS masih akan menjadi perhatian utama pelaku pasar.
"The Fed masih memegang tagline 'higher for longer', dan pasar sedang menantikan rilis data tenaga kerja AS minggu ini. Jika datanya tidak sesuai ekspektasi, peluang penurunan suku bunga The Fed kembali terbuka," jelasnya.
Meski pasar tengah tertekan dari berbagai sisi, David menilai masih terdapat sejumlah saham yang menarik untuk dicermati oleh investor yaitu sebagai berikut :
Rekomendasi: Buy
Entry: 11.600
Target: 12.200
Stop loss: 11.300
Rekomendasi: Buy on Pullback
Entry: 1.680 - 1.700
Target: 1.800
Stop loss: 1.620
Rekomendasi: Buy
Entry: 1.785
Target: 1.960
Stop loss: 1.700.(Marjudin/AI)
Sumber : Admin
powered by: IPOTNEWS.COM